Langsung ke konten utama

Postingan

The Two Bule-s

Mormonism is something quite foreign in many non English speaking countries, especially in places where Catholics are already a minority, like where I come from. I grew up in what people might call a small town, although it was really just a cluster of rural neighborhoods. To give you a sense of how underdeveloped my “town” was, Catholicism only started to grow in the past 30 years, and we didn’t even have our first ATM machine until 2009. In a place like that, the idea of mormonism felt completely distant, let alone meeting a mormon. Years ago, meeting a catholic felt unusual for kids from my village because we kinda used to homogeneity.  Things started to change when I moved to a bigger city for junior high school. The city was relatively bicycle friendly, and I often rode around using a bike borrowed from my school whenever I needed to run errands or just explore. During those rides, especially when passing through Ahmad Dahlan or Sudirman Street, I frequently noticed something ...
Postingan terbaru

Rimba Mana Yang Hendak Kutapaki?

Sebentar! Sepertinya aku barusan bermimpi. Aku selalu melanglang buana, jauh berharap ke sana, mencoba ke situ. Tapi, ada satu halyang dari dalam dada itu selalu terdengar memanggil dan menyayat hati. Bocah-bocah tunarungu, bocah-bocah tuli, tunanetra. hmmm apa aku memang diarahkan untuk kesitu? Aku masih belum tau. Saat ini, aku merasa menjadi manusia tanpa visi. Selama ini aku hanya berkubang dalam harapan. Aku lupakan siapa diriku. Aku lupakan cerminku, kutinggalkan ia ditengah jalan, aku sudah lupa menaruhnya dimana. Lalu, aku berkubang dalam harapan. Harapan akan banyak hal. Dan lebih bodohnya, aku menyadari tapi, barang sedetikpun aku tak mau mengeringkan harapan yang terlanjur membasahi pikir dan hatiku. Jangan bayangkan harapanku itu berisi. Lebih cenderung pada kosong. Seolah-olah hanya menyambung hidup tanpa mengisinya! Spesies apakah aku ini? Jika aku manusia, kenapa pula aku tak punya insting untuk meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat bagiku? Mau kemana sejatinya ini...

Masa Muda Masa Yang Berapi-Api

Kaum muda, yang diperlukan adalah orang-orang yang mampu memimpikan sesuatu yang tidak pernah diimpikan oleh siapapun. -John F. Kennedy- Kaum muda, digadang-gadang sebagi pembawa perubahan, pemanggul harapan, kalau kata Bang Haji Rhoma Irama, Masa muda, masa yang berapi-api, on fire! penuh passion! Buktikan berapi-apinya! Bukan! Bukan dengan membakar amarah para ayah atau ibunda guru, atau mengobarkan api kebencian antar sekolah sehingga kejadian-kejadian yang sepantasnya itu terjadi. Kobarkan semangat dalam menekuni passion sehingga bisa kau persembahkan sesuatu untuk nusantara. Menjadi agen perubahan, harapan itu tak lagi hanya menjadi sesuatu yang kau panggul, tentu itu membuatmu pegal, harapan itu adakah untuk kau genggam lalu diwujudkan. Berat memang, sekali waktu mungkin kamu merasa begitu, tapi, tenang saja, kamu tidak sendiri. Kaum muda di negri ini berasal dari berbagai suku, agama, ras dari ujung Sabang hingga ujung Merauke, bersama mereka, panggulan itu ditanggung ...

Waroeng Kopi

Sebagai negara penghasil kopi terbesar nomor 4 di dunia. Kopi tentunya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Maka, tak heran jika kemudian sebutan 'warung kopi' menjadi familiar. Di negri ini, warung kopi tak sekedar hanya tempat membeli kopi. Warung kopi bahkan juga tempat dimana opini publik tersampaikan. Ketika orang-orang berpendidikan tinggi mengemukakan pendapat mereka melaui pena ataupun forum-forum besar. Maka orang-orang arus bawah mengemukakannya dengan media warung kopi. Ketika orang-orang arus bawah mulai tak lagi percaya yang ada di arus atas, mereka yang butuh didengarkan akhirnya menikmati romansa bersama kopi, kemudian berceloteh ke sana ke mari dengan kaki diangkat satu dan kadang kala bersama sebatang rokok. Barangkali orang-orang tersebut merasa di situlah kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan dari tekanan pekerjaan, dan kebebasan-kebebasan lainnya yang katanya dibicarakan untuk diperjuangkan tap...

Masa Muda

Kini anak-anak seumuranku sudah menyandang sebutan baru; kaum muda. Begitu orang-orang menyebutnya. Rasanya ajaib menyandang label itu. 5 tahun lalu, labelku dan kawan-kawan seumuranku di masyarakat masihlah sebagai; anak-anak. Saat anak-anak, tentu tidak terpikirkan olehku bahwa nantinya aku dan kawan-kawanku akan tumbuh besar dan akan menjadi apa yang disebut orang-orang sebagai muda-mudi.  Saat masih duduk di sekolah dasar, ketika guruku berbicara bahwasanya para pemudalah yang ' ngotot ' untuk merdeka tanggal 17 Agustus 1945 atau ketika menceritakan bahwasanya pemuda adalah tonggak berdirinya suatu bangsa atau berkisah tentang berbagai kebangkitan nasional yang ditandai dengan didirikannya perkumpulan seperti Jong Java, Jong Sumatranenbond, dan lain-lain adalah dipelopori oleh pemuda, dan cerita-cerita heroik mengenai pemuda-pemuda lainnya, bagiku, itu semua hanyalah sebuah cerita atau bahkan hanyalah dongeng sebagaimana aku mendengarkan dongen kancil mencuri ket...

Aku Memesan Hari Esok

#INI_FIKSI! Sore itu karena banyak ulangan susulan dan beberapa tugas organisasi yang harus kukerjakan hari itu , aku berjalan ke asrama dengan membawa pulang penat. Dalam fikiranku, sesampainya di asrama, akan ada sajian kolak yang masih hangat dari Ibu boga asrama. Tapi, itu rasa-rasanya hanya akan menjadi angan saja, kolak tidak akan tersaji di meja ruang makan kecuali pada hari senin atau kamis. Di tengah lelahku sore itu, seseorang dengan ransel besar yang di wajahnya masih terlihat sisa letih perjalanan yang kuketahui merupakan perjalanan dari Bandung memainkan smartphone-nya  di ambang pintu asrama. Hatiku dijejali perasaan bahagia yang bisu. Aku tanpa sadar tersenyum. Seketika penatku hilang. Kamu yang menyadari kehadiranku melambaikan tangan ke arahku dan tersenyum. Aku setengah berlari menuju ke arahmu. “Makan di mana?” kamu tanpa basa-basi menanyaiku. “Haha tau aja kalo lagi laper!” aku menjawab. “Minum milk tea deket sini aja gimana?” aku mengusulkan. “Si...

Godhong Gedhang a.k.a Daun Pisang

Ini cerita tentan godhong gedhang alias daun pisang. Daun pisang punya banyak kenangan dalam diriku. Apalagi ketika aku masih kecil. Daun pisang seringkali jadi penyelamat ketika hujan tiba-tiba turun saat aku pulang dari sawah. Biasanya, kala tiba-tiba hujan turun dan tidak memawa payung, orang dewasa yang bersamaku entah itu kakek, nenek, bapak, atau ibuku akan langsung menebas sebuah atau dua buah daun pisang untuk kemudian difungsikan sebagai payung. Kemudian setelah itu kami akan berlari menembus hujan. Selain payung, dulu, aku dan kawan-kawanku seringkali jail membuka daun pisang yang menggulung dalam rangka mencari enthung atau kepompong didalamnya. Meskipun kami lebih sering kecewa karena tidak menemukan kepompong di sana, tapi, itu adalah salah satu goresan kebahagiaan di masa kecil saya. Daun pisang pula yang mengantarkan bapakku sekolah sampai S2. Yaitu karena simbah putriku yang bekerja sebagai pembuat dan pedagang tempe, mnggunakannya sebagai pembungkus kedelai...