Ini cerita tentan godhong gedhang alias daun pisang. Daun
pisang punya banyak kenangan dalam diriku. Apalagi ketika aku masih kecil. Daun
pisang seringkali jadi penyelamat ketika hujan tiba-tiba turun saat aku pulang
dari sawah. Biasanya, kala tiba-tiba hujan turun dan tidak memawa payung, orang
dewasa yang bersamaku entah itu kakek, nenek, bapak, atau ibuku akan langsung
menebas sebuah atau dua buah daun pisang untuk kemudian difungsikan sebagai
payung. Kemudian setelah itu kami akan berlari menembus hujan.
Selain payung, dulu, aku dan kawan-kawanku seringkali jail
membuka daun pisang yang menggulung dalam rangka mencari enthung atau kepompong
didalamnya. Meskipun kami lebih sering kecewa karena tidak menemukan kepompong
di sana, tapi, itu adalah salah satu goresan kebahagiaan di masa kecil saya.
Daun pisang pula yang mengantarkan bapakku sekolah sampai
S2. Yaitu karena simbah putriku yang bekerja sebagai pembuat dan pedagang
tempe, mnggunakannya sebagai pembungkus kedelai-kedelai para calon tempe yang
kelak dijualnya.
Jadi, I write this because I got an inspiration from
Affandi. The great painter from Indonesia. Atap rumahnya Affandi itu bentuknya
daun pisang. Kalau menurut Affandi, filosofinya adalah rumah itu sebagai tempat
berlindung. Sama kaya daun pisang yang dulu oleh orang-orang digunakan sebagai
pelindung a.k.a payung saat hujan.
Komentar
Posting Komentar