Kini anak-anak seumuranku sudah menyandang sebutan baru; kaum muda. Begitu orang-orang menyebutnya. Rasanya ajaib menyandang label itu. 5 tahun lalu, labelku dan kawan-kawan seumuranku di masyarakat masihlah sebagai; anak-anak. Saat anak-anak, tentu tidak terpikirkan olehku bahwa nantinya aku dan kawan-kawanku akan tumbuh besar dan akan menjadi apa yang disebut orang-orang sebagai muda-mudi.
Saat masih duduk di sekolah dasar, ketika guruku berbicara bahwasanya para pemudalah yang 'ngotot' untuk merdeka tanggal 17 Agustus 1945 atau ketika menceritakan bahwasanya pemuda adalah tonggak berdirinya suatu bangsa atau berkisah tentang berbagai kebangkitan nasional yang ditandai dengan didirikannya perkumpulan seperti Jong Java, Jong Sumatranenbond, dan lain-lain adalah dipelopori oleh pemuda, dan cerita-cerita heroik mengenai pemuda-pemuda lainnya, bagiku, itu semua hanyalah sebuah cerita atau bahkan hanyalah dongeng sebagaimana aku mendengarkan dongen kancil mencuri ketimun. Aku tak terbesit satupun pikiran bahwasanya tonggak bangsa yang dulu 'didongengkan' guruku itu pada akhirnya akan diestafetkan pada generasiku.
Dulu, kala orang-orang berbicara mengenai kenakalan remaja, aku hanya merasa ikut geram tanpa merasa harus ikut mempertanggungjawabkan hal itu. Kini, mau tidak mau, meskipun aku tidak ikut-ikut pun, aku sudah ikut dilabelkan sebagai remaja dan sedihnya seringkali label 'remaja' itu berdampingan dengan kata 'nakal' dengan mesranya. Kalau sudah begitu, aku pada akhirnya juga diharuskan untuk ikut memperbaiki keadaan. Berusaha memperbaiki stereotype yang ada.
Menjadi pemuda, berarti menjadi baligh, berarti menjadi individu yang independen, termasuk independen dalam memutuskan berbagai masalah dan independen dalam responsible terhadap setiap keputusan yang diambil. Di masa SMA ini, aku dituntut untuk memutuskan banyak hal dan tak jarang dari yang kuambil itu, aku justru malah terjatuh dan merasa salah mengambil keputusan. But, there's one thing, we all know that every choice has its consequence. And fortunately, every consequence in this life makes us, human, learn a lot and at the end, we can't easily dissagree with this old advice : Experience is the best teacher.

Komentar
Posting Komentar