Langsung ke konten utama

Waroeng Kopi

Sebagai negara penghasil kopi terbesar nomor 4 di dunia. Kopi tentunya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Maka, tak heran jika kemudian sebutan 'warung kopi' menjadi familiar.

Di negri ini, warung kopi tak sekedar hanya tempat membeli kopi. Warung kopi bahkan juga tempat dimana opini publik tersampaikan.

Ketika orang-orang berpendidikan tinggi mengemukakan pendapat mereka melaui pena ataupun forum-forum besar. Maka orang-orang arus bawah mengemukakannya dengan media warung kopi. Ketika orang-orang arus bawah mulai tak lagi percaya yang ada di arus atas, mereka yang butuh didengarkan akhirnya menikmati romansa bersama kopi, kemudian berceloteh ke sana ke mari dengan kaki diangkat satu dan kadang kala bersama sebatang rokok. Barangkali orang-orang tersebut merasa di situlah kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan dari tekanan pekerjaan, dan kebebasan-kebebasan lainnya yang katanya dibicarakan untuk diperjuangkan tapi kadang kala justru terbengkalai karena topik mengenai studi banding ke negara mana (mungkin) diutamakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semacam Curhatan atas IPM Rantingku

ini periode 15/16 sih that's ok :) Jangan lupa buat ngader adik-adiknya. Sukses enggaknya tahun depan juga tergantung sama perkaderan sekarang. Jangan sampai adik-adiknya nanti itu lepas kendali.  Terlalu focus sama masalah internal organisasi ya? Nggak papa, emang untuk bikin eksternal bagus, dalemnya juga perlu bagus. Tapi, kita juga mesti inget. We are here itu selalu diliat. Kita harus punya at least satu hal yang di benak anggota itu bakal diingat dari periode kita ini. Jadi, maksudku, jangan sampai karena kita terlalu focus pada perbaikan intern organisasi, kita jadi lupa untuk show up diri kita. Kita itu dituntut untuk ekstern juga ok. Dan madrasah itu percaya kok sama kekuatan intern kita. Kalo orang lain percaya sama kita. Harusnya itu tu merupakan suatu kekuatan buat kita karena kita berhasilmembuat orang lain put trust on us. Dan kalo dah gitu, we should believe on our strength. Dan dengan strength itu, kita harus show ourselves off. Orang orang lain udah...

Godhong Gedhang a.k.a Daun Pisang

Ini cerita tentan godhong gedhang alias daun pisang. Daun pisang punya banyak kenangan dalam diriku. Apalagi ketika aku masih kecil. Daun pisang seringkali jadi penyelamat ketika hujan tiba-tiba turun saat aku pulang dari sawah. Biasanya, kala tiba-tiba hujan turun dan tidak memawa payung, orang dewasa yang bersamaku entah itu kakek, nenek, bapak, atau ibuku akan langsung menebas sebuah atau dua buah daun pisang untuk kemudian difungsikan sebagai payung. Kemudian setelah itu kami akan berlari menembus hujan. Selain payung, dulu, aku dan kawan-kawanku seringkali jail membuka daun pisang yang menggulung dalam rangka mencari enthung atau kepompong didalamnya. Meskipun kami lebih sering kecewa karena tidak menemukan kepompong di sana, tapi, itu adalah salah satu goresan kebahagiaan di masa kecil saya. Daun pisang pula yang mengantarkan bapakku sekolah sampai S2. Yaitu karena simbah putriku yang bekerja sebagai pembuat dan pedagang tempe, mnggunakannya sebagai pembungkus kedelai...

Aku Memesan Hari Esok

#INI_FIKSI! Sore itu karena banyak ulangan susulan dan beberapa tugas organisasi yang harus kukerjakan hari itu , aku berjalan ke asrama dengan membawa pulang penat. Dalam fikiranku, sesampainya di asrama, akan ada sajian kolak yang masih hangat dari Ibu boga asrama. Tapi, itu rasa-rasanya hanya akan menjadi angan saja, kolak tidak akan tersaji di meja ruang makan kecuali pada hari senin atau kamis. Di tengah lelahku sore itu, seseorang dengan ransel besar yang di wajahnya masih terlihat sisa letih perjalanan yang kuketahui merupakan perjalanan dari Bandung memainkan smartphone-nya  di ambang pintu asrama. Hatiku dijejali perasaan bahagia yang bisu. Aku tanpa sadar tersenyum. Seketika penatku hilang. Kamu yang menyadari kehadiranku melambaikan tangan ke arahku dan tersenyum. Aku setengah berlari menuju ke arahmu. “Makan di mana?” kamu tanpa basa-basi menanyaiku. “Haha tau aja kalo lagi laper!” aku menjawab. “Minum milk tea deket sini aja gimana?” aku mengusulkan. “Si...