1. Flight dan Transit Ini merupakan pertama kalinya aku travelling ke luar negeri sendirian. Saat di Soekarno-Hatta, suamiku mendampingiku dari awal. Mulai dari booking kereta bandara, naik skytrain, hingga check in. Setelah itu, semuanya harus kulakukan sendiri. Di imigrasi soetta semua berjalan dengan lancar dan singkatnya, aku berhasil menemukan gate untuk penerbanganku. Penerbangan pertama ini cukup singkat, hanya sekitar 3 jam karena transit dulu di Kuala Lumpur. Selama penerbangan, aku tidak terlalu memperhatikan orang yang duduk di sampingku. Hingga tiba waktunya transit di Kuala Lumpur, aku sedikit ragu dengan apa yang dikatakan salah seorang petugas bandara mengenai gateku. Samar-samar aku mendengar percakapan berbahasa Indonesia di antrian gate. Meskipun sedikit malu, aku memutuskan untuk bertanya pada mereka tentang antrian gate ini. 2. Samuel dan Paspor Pertamanya It turns out, mereka adalah mahasiswa yang hendak menuju ke Prancis. Dan lebih kagetnya lagi, salah satu d...
In many ways, I feel like I exist in a “third space.” I wasn’t raised moving across countries, but growing up as a rural-area girl within an urban environment, especially in an Islamic (perhaps) liberal school setting, has shaped a similar kind of in between identity. It’s not quite one world or the other. It’s a mix that doesn’t always neatly belong anywhere. This is why the idea of “third culture kids” resonates with me, even if my experience is more local than global. The essence, I think, isn’t just about geography, it’s about growing up between different systems of values, expectations, and ways of seeing the world. In my case, it’s the contrast between rural and urban life, between traditional and more liberal interpretations of religion, and between different social realities within the country itself. Sometimes it feels like constant code switching, not just in the language or behavior, but in belief itself. In one space, certain opinions feel natural, while in another, they fe...