Langsung ke konten utama

Postingan

Just Arrived in Nijmegen.

1. Flight dan Transit Ini merupakan pertama kalinya aku travelling ke luar negeri sendirian. Saat di Soekarno-Hatta, suamiku mendampingiku dari awal. Mulai dari booking kereta bandara, naik skytrain, hingga check in. Setelah itu, semuanya harus kulakukan sendiri. Di imigrasi soetta semua berjalan dengan lancar dan singkatnya, aku berhasil menemukan gate untuk penerbanganku.  Penerbangan pertama ini cukup singkat, hanya sekitar 3 jam karena transit dulu di Kuala Lumpur. Selama penerbangan, aku tidak terlalu memperhatikan orang yang duduk di sampingku. Hingga tiba waktunya transit di Kuala Lumpur, aku sedikit ragu dengan apa yang dikatakan salah seorang petugas bandara mengenai gateku. Samar-samar aku mendengar percakapan berbahasa Indonesia di antrian gate. Meskipun sedikit malu, aku memutuskan untuk bertanya pada mereka tentang antrian gate ini. 2. Samuel dan Paspor Pertamanya It turns out, mereka adalah mahasiswa yang hendak menuju ke Prancis. Dan lebih kagetnya lagi, salah satu d...
Postingan terbaru

Live in One Country, But, Somehow TCK Struggles Resonates a lot With Me

In many ways, I feel like I exist in a “third space.” I wasn’t raised moving across countries, but growing up as a rural-area girl within an urban environment, especially in an Islamic (perhaps) liberal school setting, has shaped a similar kind of in between identity. It’s not quite one world or the other. It’s a mix that doesn’t always neatly belong anywhere. This is why the idea of “third culture kids” resonates with me, even if my experience is more local than global. The essence, I think, isn’t just about geography, it’s about growing up between different systems of values, expectations, and ways of seeing the world. In my case, it’s the contrast between rural and urban life, between traditional and more liberal interpretations of religion, and between different social realities within the country itself. Sometimes it feels like constant code switching, not just in the language or behavior, but in belief itself. In one space, certain opinions feel natural, while in another, they fe...

The Two Bule-s

Mormonism is something quite foreign in many non English speaking countries, especially in places where Catholics are already a minority, like where I come from. I grew up in what people might call a small town, although it was really just a cluster of rural neighborhoods. To give you a sense of how underdeveloped my “town” was, Catholicism only started to grow in the past 30 years, and we didn’t even have our first ATM machine until 2009. In a place like that, the idea of mormonism felt completely distant, let alone meeting a mormon. Years ago, meeting a catholic felt unusual for kids from my village because we kinda used to homogeneity.  Things started to change when I moved to a bigger city for junior high school. The city was relatively bicycle friendly, and I often rode around using a bike borrowed from my school whenever I needed to run errands or just explore. During those rides, especially when passing through Ahmad Dahlan or Sudirman Street, I frequently noticed something ...

Rimba Mana Yang Hendak Kutapaki?

Sebentar! Sepertinya aku barusan bermimpi. Aku selalu melanglang buana, jauh berharap ke sana, mencoba ke situ. Tapi, ada satu halyang dari dalam dada itu selalu terdengar memanggil dan menyayat hati. Bocah-bocah tunarungu, bocah-bocah tuli, tunanetra. hmmm apa aku memang diarahkan untuk kesitu? Aku masih belum tau. Saat ini, aku merasa menjadi manusia tanpa visi. Selama ini aku hanya berkubang dalam harapan. Aku lupakan siapa diriku. Aku lupakan cerminku, kutinggalkan ia ditengah jalan, aku sudah lupa menaruhnya dimana. Lalu, aku berkubang dalam harapan. Harapan akan banyak hal. Dan lebih bodohnya, aku menyadari tapi, barang sedetikpun aku tak mau mengeringkan harapan yang terlanjur membasahi pikir dan hatiku. Jangan bayangkan harapanku itu berisi. Lebih cenderung pada kosong. Seolah-olah hanya menyambung hidup tanpa mengisinya! Spesies apakah aku ini? Jika aku manusia, kenapa pula aku tak punya insting untuk meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat bagiku? Mau kemana sejatinya ini...

Masa Muda Masa Yang Berapi-Api

Kaum muda, yang diperlukan adalah orang-orang yang mampu memimpikan sesuatu yang tidak pernah diimpikan oleh siapapun. -John F. Kennedy- Kaum muda, digadang-gadang sebagi pembawa perubahan, pemanggul harapan, kalau kata Bang Haji Rhoma Irama, Masa muda, masa yang berapi-api, on fire! penuh passion! Buktikan berapi-apinya! Bukan! Bukan dengan membakar amarah para ayah atau ibunda guru, atau mengobarkan api kebencian antar sekolah sehingga kejadian-kejadian yang sepantasnya itu terjadi. Kobarkan semangat dalam menekuni passion sehingga bisa kau persembahkan sesuatu untuk nusantara. Menjadi agen perubahan, harapan itu tak lagi hanya menjadi sesuatu yang kau panggul, tentu itu membuatmu pegal, harapan itu adakah untuk kau genggam lalu diwujudkan. Berat memang, sekali waktu mungkin kamu merasa begitu, tapi, tenang saja, kamu tidak sendiri. Kaum muda di negri ini berasal dari berbagai suku, agama, ras dari ujung Sabang hingga ujung Merauke, bersama mereka, panggulan itu ditanggung ...

Waroeng Kopi

Sebagai negara penghasil kopi terbesar nomor 4 di dunia. Kopi tentunya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Maka, tak heran jika kemudian sebutan 'warung kopi' menjadi familiar. Di negri ini, warung kopi tak sekedar hanya tempat membeli kopi. Warung kopi bahkan juga tempat dimana opini publik tersampaikan. Ketika orang-orang berpendidikan tinggi mengemukakan pendapat mereka melaui pena ataupun forum-forum besar. Maka orang-orang arus bawah mengemukakannya dengan media warung kopi. Ketika orang-orang arus bawah mulai tak lagi percaya yang ada di arus atas, mereka yang butuh didengarkan akhirnya menikmati romansa bersama kopi, kemudian berceloteh ke sana ke mari dengan kaki diangkat satu dan kadang kala bersama sebatang rokok. Barangkali orang-orang tersebut merasa di situlah kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan dari tekanan pekerjaan, dan kebebasan-kebebasan lainnya yang katanya dibicarakan untuk diperjuangkan tap...

Masa Muda

Kini anak-anak seumuranku sudah menyandang sebutan baru; kaum muda. Begitu orang-orang menyebutnya. Rasanya ajaib menyandang label itu. 5 tahun lalu, labelku dan kawan-kawan seumuranku di masyarakat masihlah sebagai; anak-anak. Saat anak-anak, tentu tidak terpikirkan olehku bahwa nantinya aku dan kawan-kawanku akan tumbuh besar dan akan menjadi apa yang disebut orang-orang sebagai muda-mudi.  Saat masih duduk di sekolah dasar, ketika guruku berbicara bahwasanya para pemudalah yang ' ngotot ' untuk merdeka tanggal 17 Agustus 1945 atau ketika menceritakan bahwasanya pemuda adalah tonggak berdirinya suatu bangsa atau berkisah tentang berbagai kebangkitan nasional yang ditandai dengan didirikannya perkumpulan seperti Jong Java, Jong Sumatranenbond, dan lain-lain adalah dipelopori oleh pemuda, dan cerita-cerita heroik mengenai pemuda-pemuda lainnya, bagiku, itu semua hanyalah sebuah cerita atau bahkan hanyalah dongeng sebagaimana aku mendengarkan dongen kancil mencuri ket...