Langsung ke konten utama

Rimba Mana Yang Hendak Kutapaki?

Sebentar! Sepertinya aku barusan bermimpi. Aku selalu melanglang buana, jauh berharap ke sana, mencoba ke situ. Tapi, ada satu halyang dari dalam dada itu selalu terdengar memanggil dan menyayat hati. Bocah-bocah tunarungu, bocah-bocah tuli, tunanetra. hmmm apa aku memang diarahkan untuk kesitu? Aku masih belum tau.

Saat ini, aku merasa menjadi manusia tanpa visi. Selama ini aku hanya berkubang dalam harapan. Aku lupakan siapa diriku. Aku lupakan cerminku, kutinggalkan ia ditengah jalan, aku sudah lupa menaruhnya dimana. Lalu, aku berkubang dalam harapan. Harapan akan banyak hal. Dan lebih bodohnya, aku menyadari tapi, barang sedetikpun aku tak mau mengeringkan harapan yang terlanjur membasahi pikir dan hatiku. Jangan bayangkan harapanku itu berisi. Lebih cenderung pada kosong. Seolah-olah hanya menyambung hidup tanpa mengisinya! Spesies apakah aku ini? Jika aku manusia, kenapa pula aku tak punya insting untuk meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat bagiku? Mau kemana sejatinya ini?

Ke timur? ke barat?
ke laut? ke langit?
ke kota? ke rimba?

Belantara mana yang hendak aku jejaki? Aku terus berjalan, tapi, tak benar-benar menjelajahi. Apakah luar negri itu harus selalu dikonotasikan dengan kesuksesan? Duhai, aku nak kemana ye?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Two Bule-s

Mormonism is something quite foreign in many non English speaking countries, especially in places where Catholics are already a minority, like where I come from. I grew up in what people might call a small town, although it was really just a cluster of rural neighborhoods. To give you a sense of how underdeveloped my “town” was, Catholicism only started to grow in the past 30 years, and we didn’t even have our first ATM machine until 2009. In a place like that, the idea of mormonism felt completely distant, let alone meeting a mormon. Years ago, meeting a catholic felt unusual for kids from my village because we kinda used to homogeneity.  Things started to change when I moved to a bigger city for junior high school. The city was relatively bicycle friendly, and I often rode around using a bike borrowed from my school whenever I needed to run errands or just explore. During those rides, especially when passing through Ahmad Dahlan or Sudirman Street, I frequently noticed something ...

Semacam Curhatan atas IPM Rantingku

ini periode 15/16 sih that's ok :) Jangan lupa buat ngader adik-adiknya. Sukses enggaknya tahun depan juga tergantung sama perkaderan sekarang. Jangan sampai adik-adiknya nanti itu lepas kendali.  Terlalu focus sama masalah internal organisasi ya? Nggak papa, emang untuk bikin eksternal bagus, dalemnya juga perlu bagus. Tapi, kita juga mesti inget. We are here itu selalu diliat. Kita harus punya at least satu hal yang di benak anggota itu bakal diingat dari periode kita ini. Jadi, maksudku, jangan sampai karena kita terlalu focus pada perbaikan intern organisasi, kita jadi lupa untuk show up diri kita. Kita itu dituntut untuk ekstern juga ok. Dan madrasah itu percaya kok sama kekuatan intern kita. Kalo orang lain percaya sama kita. Harusnya itu tu merupakan suatu kekuatan buat kita karena kita berhasilmembuat orang lain put trust on us. Dan kalo dah gitu, we should believe on our strength. Dan dengan strength itu, kita harus show ourselves off. Orang orang lain udah...

Godhong Gedhang a.k.a Daun Pisang

Ini cerita tentan godhong gedhang alias daun pisang. Daun pisang punya banyak kenangan dalam diriku. Apalagi ketika aku masih kecil. Daun pisang seringkali jadi penyelamat ketika hujan tiba-tiba turun saat aku pulang dari sawah. Biasanya, kala tiba-tiba hujan turun dan tidak memawa payung, orang dewasa yang bersamaku entah itu kakek, nenek, bapak, atau ibuku akan langsung menebas sebuah atau dua buah daun pisang untuk kemudian difungsikan sebagai payung. Kemudian setelah itu kami akan berlari menembus hujan. Selain payung, dulu, aku dan kawan-kawanku seringkali jail membuka daun pisang yang menggulung dalam rangka mencari enthung atau kepompong didalamnya. Meskipun kami lebih sering kecewa karena tidak menemukan kepompong di sana, tapi, itu adalah salah satu goresan kebahagiaan di masa kecil saya. Daun pisang pula yang mengantarkan bapakku sekolah sampai S2. Yaitu karena simbah putriku yang bekerja sebagai pembuat dan pedagang tempe, mnggunakannya sebagai pembungkus kedelai...