Langsung ke konten utama

Just Arrived in Nijmegen.

1. Flight dan Transit

Ini merupakan pertama kalinya aku travelling ke luar negeri sendirian. Saat di Soekarno-Hatta, suamiku mendampingiku dari awal. Mulai dari booking kereta bandara, naik skytrain, hingga check in. Setelah itu, semuanya harus kulakukan sendiri.

Di imigrasi soetta semua berjalan dengan lancar dan singkatnya, aku berhasil menemukan gate untuk penerbanganku. 

Penerbangan pertama ini cukup singkat, hanya sekitar 3 jam karena transit dulu di Kuala Lumpur. Selama penerbangan, aku tidak terlalu memperhatikan orang yang duduk di sampingku. Hingga tiba waktunya transit di Kuala Lumpur, aku sedikit ragu dengan apa yang dikatakan salah seorang petugas bandara mengenai gateku. Samar-samar aku mendengar percakapan berbahasa Indonesia di antrian gate. Meskipun sedikit malu, aku memutuskan untuk bertanya pada mereka tentang antrian gate ini.

2. Samuel dan Paspor Pertamanya

It turns out, mereka adalah mahasiswa yang hendak menuju ke Prancis. Dan lebih kagetnya lagi, salah satu diantara mereka, Samuel, ternyata adalah orang yang duduk di sebelahku. Aku lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa Samuel dan aku berasal dari kota yang sama. Sungguh sempit sekali dunia. 

Samuel bercerita bahwa dia telah melakukan perjalanan yang panjang. Tidak sepertiku yang berangkat dari Jakarta, Samuel berangkat dari Magelang menggunakan mobil ke Bandara NYIA, lalu dia langsung terbang ke Jakarta. Setelah Jakarta, ia terbang ke Kuala Lumpur, dari Kuala Lumpur dia melanjutkan perjalanan ke Amsterdam. Dari Amsterdam baru dia melanjutkan perjalanan ke Nantes, sebuah kota kecil di Prancis. Katanya, ini merupakan perjalanan pertamanya ke luar negeri dan langsung mengarungi perjalanan yang begitu panjang. "Ini juga paspor pertamaku," tambahnya bangga.  

3. Sana dan Permen dari Orang Asing

Transit di Kuala Lumpur tidak lama, hanya cukup untuk ke kamar mandi sebentar lalu mengantri gate, dan masuk pesawat lagi. 

Di pesawat, selain Samuel, seseorang di sebelahku memperkenalkan diri sebagai Sana. Sana adalah orang Belanda. Saat transit di Kuala Lumpur, Sana membantuku mengambil barangku di overhead compartment. Ya maklumlah, makhluk pendek sepertiku ini hampir selalu punya masalah terkait overhead compartment. 

Sana bercerita kalau dia adalah seorang engineer dan setiap dua bulan sekali, dia ke Jakarta untuk melihat progres kantor cabangnya di Jakarta. Kita bertukar cerita sedikit tentang background keluarga kami. Aku juga menanyakan padanya tentang cara memesan tiket kereta dari bandara ke Nijmegen. Dia banyak memberi informasi tentang Belanda. Saat landing dan telingaku sakit, dia menanyakan apakah aku baik-baik saja dan juga menawarkan permen karet supaya telingaku lebih baik.

Aku sedikit tergelitik karena peristiwa tersebut. Aku teringat nasehat orang tua dulu soal tidak boleh menerima permen dari orang asing. Tapi, kini, aku baru saja menerima permen dari orang lain. Anything which makes me feel better! pikirky ketika itu.  

4. Amsterdam

Sampai di Amsterdam, aku masih dibantu Sana. Sana sepertinya melihatku kebingungan mencari bagage belt. Saat melewatiku dia langsung bilang "18!" sambil tersenyum. Aku langsung mengucapkan terimakasih. Setelah dia mengambil bagasinya, kita berpisah. Aku kemudian mencari-cari tempat pembelian tiket. Dan yeah, tak sampai 15 menit, aku berhasil menemukannya. Pembelian tiket mudah dan aku bersyukur di bandara masih terdapat wifi, di kereta juga sama, ada wifi gratis. Namun begitu sampai Nijmegen lalu keluar stasiun, tidak ada wifi gratis lagi. Aku panik, karena satu-satunya senjataku untuk menuju tempat tinggalku hanyalah internet. Tanpa internet, aku tentu tidak tau harus ke arah mana.

5. Nijmegen

Aku sempat panik, beberapa saat karena masalah internet. Aku coba connect ke wifi sebuah hotel, namun, tidak bisa. Aku coba roaming, tapi, roamingnya tidak bisa. Aku kebingungan. Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya warga lokal. Beliau mengarahkanku ke halte bus, beliau bahkan memastikan tujuanku benar. 

Menunggu bus sedikit menyebalkan karena banyak bekas puntung rokok yang dibuang di halte. Bau rokoknya masih tercium tajam dan itu membuatku pusing. Selain itu, aku juga ketinggalan bus dua kali. Jadi aku harus menunggu sekitar 25 menit di suhu yang menurutku sudah cukup dingin. 

Di bus, lagi-lagi ada wifi gratis, namun, setelah mencoba ini itu, roamingku sudah bisa digunakan. Aku sangat lega. Perjalanan dengan bus sebenarnya tidak lama, namun, karena aku harus mengangkat koper sendiri ke dalam bus, itu jadi melelahkan. Saat turunpun, aku juga harus menggotong koperku sendiri. Sempat ada seseorang menawarkan bantuan, namun, aku sudah terlanjur membawanya turun. 

Dari halte bis tujuan, aku masih harus jalan kaki sekitar 10 menit ke rumah yang aku sewa. Aku mengaktifkan maps. Namun, tiba-tiba, tak lama setelah aku mengaktifkan maps, bateraiku habis. Damn you, Samsung! Hape kalau udah lama baterainya jadi cepat habis. :)

Aku lagi-lagi harus memutar otak, akhirnya aku memutuskan untuk memasukkan simcard ke dalam tabletku.

Aku berjalan dengan tas di punggung dan menarik koper 23 kg di tangan kanan dan tabletku yang cukup besar itu di tangan kiri sambil membuka maps. Sebenarnya aku malu sekali karena geret-geret koper sendirian kaya orang ilang. Tapi, yasudahlah, yang penting aku sampai tempat yang aku sewa dulu.

5. Mas Bandri dan Mbak Tyo

Setelah drama jadi orang hilang, aku sampai di rumah yang aku tuju. Rumah Mas Bandri, mahasiswa Indonesia yang memiliki rumah yang sangat besar sehingga beberapa kamar yang lain ia sewakan. Mas Bandri membukakan pintu dan menyambutku dengan senyum yang sangat lebar. Mas Bandri lalu membawakan koperku ke lantai dua dan melakukan house tour. Rumah Mas Bandri sangat bersih dan nyaman. Mas Bandri tinggal bersama istrinya, Mbak Tyo dan seorang anak. Bersama dengan keluarga Mas Bandri, ada juga Mbak Miftah yang merupakan mahasiswa PhD yang juga menyewa kamar di rumah Mas Bandri. 

Aku disambut Mas Bandri dan Mbak Tyo dengan hangat, mereka juga memberi tahuku tentang hal-hal essensial di Nijmegen.

6. First Meal yang Sedih

Setelah itu, aku full tidur di kamar dan hanya makan sebungkus mie yang kubawa dari Indonesia. Mie itu, aku seduh dengan air dingin karena aku masih malu untuk masak. Hehe. Dan itulah my first meal in Nijmegen. Mie merk Gaga yang kuseduh langsung di kemasannya dengan air dingin lalu kukareti bagian atas kemasannya, kutunggu sampai mienya lunak, kubuang airnya di wastafel, kucampur bumbu langsung ke kemasannya, lalu kumakan. wgwkw


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semacam Curhatan atas IPM Rantingku

ini periode 15/16 sih that's ok :) Jangan lupa buat ngader adik-adiknya. Sukses enggaknya tahun depan juga tergantung sama perkaderan sekarang. Jangan sampai adik-adiknya nanti itu lepas kendali.  Terlalu focus sama masalah internal organisasi ya? Nggak papa, emang untuk bikin eksternal bagus, dalemnya juga perlu bagus. Tapi, kita juga mesti inget. We are here itu selalu diliat. Kita harus punya at least satu hal yang di benak anggota itu bakal diingat dari periode kita ini. Jadi, maksudku, jangan sampai karena kita terlalu focus pada perbaikan intern organisasi, kita jadi lupa untuk show up diri kita. Kita itu dituntut untuk ekstern juga ok. Dan madrasah itu percaya kok sama kekuatan intern kita. Kalo orang lain percaya sama kita. Harusnya itu tu merupakan suatu kekuatan buat kita karena kita berhasilmembuat orang lain put trust on us. Dan kalo dah gitu, we should believe on our strength. Dan dengan strength itu, kita harus show ourselves off. Orang orang lain udah...

Godhong Gedhang a.k.a Daun Pisang

Ini cerita tentan godhong gedhang alias daun pisang. Daun pisang punya banyak kenangan dalam diriku. Apalagi ketika aku masih kecil. Daun pisang seringkali jadi penyelamat ketika hujan tiba-tiba turun saat aku pulang dari sawah. Biasanya, kala tiba-tiba hujan turun dan tidak memawa payung, orang dewasa yang bersamaku entah itu kakek, nenek, bapak, atau ibuku akan langsung menebas sebuah atau dua buah daun pisang untuk kemudian difungsikan sebagai payung. Kemudian setelah itu kami akan berlari menembus hujan. Selain payung, dulu, aku dan kawan-kawanku seringkali jail membuka daun pisang yang menggulung dalam rangka mencari enthung atau kepompong didalamnya. Meskipun kami lebih sering kecewa karena tidak menemukan kepompong di sana, tapi, itu adalah salah satu goresan kebahagiaan di masa kecil saya. Daun pisang pula yang mengantarkan bapakku sekolah sampai S2. Yaitu karena simbah putriku yang bekerja sebagai pembuat dan pedagang tempe, mnggunakannya sebagai pembungkus kedelai...

The Two Bule-s

Mormonism is something quite foreign in many non English speaking countries, especially in places where Catholics are already a minority, like where I come from. I grew up in what people might call a small town, although it was really just a cluster of rural neighborhoods. To give you a sense of how underdeveloped my “town” was, Catholicism only started to grow in the past 30 years, and we didn’t even have our first ATM machine until 2009. In a place like that, the idea of mormonism felt completely distant, let alone meeting a mormon. Years ago, meeting a catholic felt unusual for kids from my village because we kinda used to homogeneity.  Things started to change when I moved to a bigger city for junior high school. The city was relatively bicycle friendly, and I often rode around using a bike borrowed from my school whenever I needed to run errands or just explore. During those rides, especially when passing through Ahmad Dahlan or Sudirman Street, I frequently noticed something ...